Symbiosis Antara Shalat dan Pelakunya

Kedudukan shalat dalam agama memiliki perhatian yang sangat tinggi. yaitu sebagai kewajiban yang pertama dituntut untuk dilakukan setelah syahadat. dan kelak menjadi ibadah pertama yang akan dipertanyakan. bahkan menjadi standar penilaian amal-amal lainya, jika sholatnya baik yang lain akan menjadi mudah jika sholatnya buruk maka yang lainnya akan dinilai lebih buruk.

Dianatara amal-amal  fisik sholat merupakan ibadah yang paling afdol, sebagai master, sholat merupakan ibadah terbaik dan sholat sunnah menjadi yang paling unggul diantar ibdah sunnah lainya.

sebagai wujud penghambaan,  kiranya mengtahui hikmah sholat secara rinci tidak menjadi prioritas utama. Ada apa dibalik jmlah rakaat sholat, kenapa banyak gerakan yang dilakukan, hingga rahasia apa dibalik waktu-waktu sholat. iman menuntut totalitas kepatuhan iman juga teruji melakukan perintah tampa harus mempertanyakan, kenapa. asal dilakukan dengan serius rahasia dibalik sholat akan terungkap dengan sendirinya. dan apabila sudah merasakanya ibadah akan menjadi kebutuhan.

menurut sebagian besar ulama sholat dan penentuan waktu-waktunya adalah hal yang bersifat ta’abuddy ( dogmatis ) buka bersifat ta’aqquli (logis). pun begitu ada juga ulama yang mengintip dibalik penempatan waktu dan perbedaan rokaat didalamnya.

menurutnya waktu-waktu tersebut merupakan pengingat tahapan tumbuh kembang manusia hingga wafatnya. agar dia tahu, bahwa tidak selamnya dia didunia ini. perlu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena waktu tak pernah kembali. Diawali dengan terbentuknya janin secara sempurna hingga siap untuk dilahirkan ibaratnya terbit fajar. fajar merupakan muqqodhimah terbitnya matahari yang diidentikkan dengan kelahiran jani. Demi mengingat ini, diwajibkan sholat shubuh. pertumbuhan setelah kelahiran ibarat matahari yang beranjak tinggi. hingga mencapai puncak kulminasi seperti perkembangan anak telah mencapai puncak klimaks, menjadi seorang pemuda, selanjutnya matahari mulai bergeser mengingatkan sang pemuda  mulai beranjak menua, sehingga semangatnya mulai menurun. Demi mengingatkan pergeseran ini, diwajibkan shalat dzuhur.waktu terus berjalan menjadikan manusia  manusia benar-benar tua matahari hampir terbenam. kewajiban sholat ashar mengingatkanya, bahwa dia hampir terbenam (meninggal). waktu matahari terbenam adalah waktu dia meninggal. hal itu diingatkan dengan sholat magrib, setelah meninggal tubuh manusia akan hancur hal itu sama halnya dengan hilangnya bekas-bekas matahari yang ditandai dengan sinarnyaawan merah dicakrawala. keajiban sholat isya’ menjadi pengingat untuk itu.

Dalam menguak perbedaan jumlah rakaat dijelaskan sholat shubuh hanya dua rakaat, lantaran masih tersisanya rasa malas akibat kantuk. pada diri orang yang sholat. berbeda dengan dhuhur dan ashar dijadikan empat rakaat karna waktu itu adalah waktu giatnya seseorang. Magrib hanya tiga rakaat karna menjadi witirnya sholat siang hari, Kemudian isya’ kembali menjadi empat untuk mengganti kekurangan malam hari, soalnya sholat fardu pada malam hari hanya ada dua magrib dan isya’ sedangkan siang ada tiga yaitu shubuh, dhuhur dan ashar.

(lanjut besok ya tetep kunjungi kabarberitanews.wordpress.com)

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di kajian islami dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s